Sabtu, 05 Desember 2009

Tips membuat judul dan abstrak dalam penyusunan skripsi, tesis, disertasi, proposal atau karya ilmiah

Seorang researcher atau peneliti, sesudah melakukan sebuah penelitian, sangat disarankan untuk segera memublikasikan hasil penelitiannya. Karena banyak sekali manfaat yang akan diperoleh dengan memublikasikan hasil penelitian, terutama sekali adalah adanya tindak lanjut dari hasil penelitian (pengembangan) atau untuk menghindari tema yang sama dari penelitian itu sendiri.

Banyak sekali cara yang bisa dilakukan researcher dalam memublikasikan hasil penelitiannya, diantaranya bisa dilakukan dengan melalui presentasi pada seminar ataupun melalui jurnal-jurnal ilmiah, lokal maupun internasional.

Pada sesi kali ini kita akan membahas bagaimana menulis judul dan abstrak.

Judul
Bagaimana cara menulis judul yang baik? atau lebih tepatnya mungkin bagaimana kita menarik perhatian calon pembaca artikel kita dengan judul?
Menurut buku, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, judul yang kita buat harus mencerminkan isi keseluruhan makalah. Kedua adalah, usahakan judul yang dibuat menjawab pertanyaan ataupun menawarkan sebuah jawaban. Bisa juga anda membuat tulisan mengenai sesuatu hal yang sedang ramai dibicarakan, misalnya saat ini sedang ramai mengenai masalah isu pemanasan global. Cobalah buat sebuah judul artikel ilmiah mengenai hal ini, niscaya orang yang membaca judul ini akan tertarik untuk membaca keseluruhan artikel Anda.

Abstrak
Setelah judul, sebelum orang lain memutuskan untuk membaca artikel ilmiah anda yang mereka lakukan adalah membaca abstrak. Abstrak menjadi salah satu bagian terpenting dalam sebuah artikel ilmiah. Keputusan apakah seseorang tertarik dengan artikel yang anda buat sebagian besar ditentukan setelah membaca abstrak.
Untuk itu, apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam membuat sebuah abstrak??
Ada 4 langkah penting yang harus dilaksanakan, yaitu
1. Ciptakan ruang penelitan, hal ini dapat dilakukan dengan cara: (a) Nyatakan pentingnya bidang yang anda teliti (bisa ditunjukkan dengan banyaknya penelitian di bidang yang sama), (b) Tunjukkan kekurangan artikel ilmiah yang telah ada (dalam bidang yang sama tentu saja), (c) Tunjukkan tujuan artikel ilmiah anda
2. Uraikan metodologi penelitian dengan jelas
3. Nyatakan hasil penelitian (dengan singkat dan jelas tentu saja)
4. Evaluasi-lah hasil penelitian yang telah dilakukan (kesimpulan artikel)
Panjang abstrak biasanya 100-200 kata. Menurut Hadijanto dalam Zifirdaus, tahap 2 dan 4 tidak wajib ada dalam sebuah abstrak.

Abstrak merupakan rangkuman dari isi tulisan dalam format yang sangat singkat. Untuk makalah, biasanya abstrak itu hanya terdiri dari satu atau dua paragraf saja. Sementara itu untuk thesis dan tugas akhir, abstrak biasanya dibatasi satu halaman. Untuk itu isi dari abstrak tidak perlu “berbunga-bunga” dan berpanjang lebar, cukup langsung kepada intinya saja. Memang kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana merangkumkan semua cerita dalam satu halaman. Justru itu tantangannya. Ada juga tulisan ilmiah yang membutuhkan extended abstract. Kalau yang ini merupakan abstrak yang lebih panjang, yang biasanya disertai dengan data-data yang lebih mendukung. Biasanya extended abstract ini dibutuhkan ketika kita mengirimkan makalah untuk seminar atau konferensi.

Ini sebagian dari review saya terhadap hasi penelitian yang sudah jadi. Kebanyakan abstrak di susun atas ‘jumlah bab’ pada laporan penelitian. Jika suatu laporan/skripsi terdiri dari 5 bab: (1) pendahuluan, (2) kajian pustaka, (3) metodologi, (4) analisis dan pembahasan, (5) penutup. Maka hendaknya menulis abstrak sebagai berikut:
1. Paragraf pertama ringkasan dari ‘latar belakang/pendahuluan’
2. Paragraf kedua ringkasan dari ‘kajian teori’
3. Paragraf ketiga ringkasan dari ‘metodologi’
4. Paragraf keempat ringkasan dari ‘analisis dan pembahasan’
5. Paragraf kelimaringkasan dari ‘penutup/kesimpulan dan saran’



Sumber:
http://www.infoskripsi.com/Tip-Trik/Tips-Membuat-Judul-dan-Abstrak-Skripsi.html

Jumat, 04 Desember 2009

MS Oasis of the Seas


MS Oasis of the Seas is a cruise ship in the fleet of Royal Caribbean International. The first of her class, she is expected to be joined by her sister ship Allure of the Seas in November 2010.[10] Both vessels are expected to cruise the Caribbean from Fort Lauderdale, Florida.[11]

The ship surpasses the Freedom-class cruise ships (also owned by Royal Caribbean) as the world's largest passenger vessel.[12]

History

The vessel was ordered in February 2006 and designed under the name "Project Genesis". Her keel was laid down on 12 November 2007 at STX Europe (formerly Aker Yards) in Turku, Finland. The company announced that full funding for Oasis of the Seas was secured on 15 April 2009.[13]

The name Oasis of the Seas resulted from a competition held in May 2008.[14]

The ship was completed and turned over to Royal Caribbean on 28 October 2009. Two days later, she departed Finland for the United States. While exiting the Baltic Sea, the vessel passed underneath the Great Belt Fixed Link in Denmark on 1 November 2009. The bridge has a clearance of 65 m (213 ft) above the water; Oasis normally has an air draft of 72 m (236 ft). The passage under the bridge was possible due to retraction of the telescoping funnels, and an additional 30 cm (12 in) was gained by the squat effect whereby vessels travelling at speed in a shallow channel will be drawn deeper into the water.[15][16] Approaching the bridge at 20 knots (37 km/h; 23 mph), the ship passed under it with less than 2 feet (60 cm) of clearance.[17]

Proceeding through the English Channel, Oasis stopped briefly in the Solent to disembark 300 shipyard workers who were onboard doing finishing work,[18] then left on the way to her intended home port of Port Everglades in Fort Lauderdale, Florida.[19] The ship arrived there on 13 November 2009, where tropical plants will be installed prior to some introductory trips and her maiden voyage on 5 December 2009.[17]

While Royal Caribbean's chief of captain's Mr. William S Wright was behind the controls on the ships journey across the Atlantic and will be for the first few sailings, Oasis of the Seas will normally be navigated on regular basis by two Norwegian captains, Mr. Tor Isak Olsen and Mr. Thore Thorvolsen.[20]

Technical details

Oasis measures 225,282 gross tons,[1] almost half again as large as the runners-up, the vessels of the Freedom class, and several times larger than Titanic, of 46,329 gross register tons (a different measure of tonnage).[21] Its displacement - the actual weight of the vessel - is approximately 100,000 tons[22], about the same as that of a Nimitz-class aircraft carrier.

To displace the volume of water necessary for the ship to float, and to keep the ship stable without increasing the draft excessively, the designers created a wide hull. About 30 feet (9 m) of the ship sits beneath the water, a small percentage of the ship's overall height. Wide, shallow ships such as this tend to be "snappy", meaning that they can snap back upright after a wave has passed, which can potentially be uncomfortable. This effect however is mitigated by the vessel's large size.[21] The cruise line's officers were pleased with the ship's stability and performance during the transatlantic crossing, when the vessel, in order to allow finishing work to go on, slowed and changed course in the face of winds "almost up to hurricane force" and seas in excess of 40 feet (12m).[23][24]

The ship's power comes from six marine diesel engines, three Wärtsilä 16-cylinder common rail diesels producing 18,860 kilowatts (25,290 hp) each, and three similar 12-cylinder engines each producing 13,860 kilowatts (18,590 hp).[8][25] The total output of these prime movers, some 97,020 kilowatts (130,110 hp), is converted to electricity, used in hotel power for operation of the lights, elevators, electronics, galleys, water treatment plant, and all of the other systems used on the operation of the vessel, as well as propulsion. Propulsion is not provided by screws on the end of long shafts piercing the hull, as on most prior ships, but by three, 20,000 kilowatts (26,800 hp) "Azipods", ABB's brand of azimuth thrusters. These pods, suspended under the stern, each contain an electric motor driving a 20-foot (6 m) propeller.[8] As they are rotatable, no rudders are needed to steer the ship. Docking is assisted by four 5,500 kilowatts (7,380 hp) bow thrusters in tunnels.[25]

Amenities

Oasis of the Seas will offer passengers features such as two-story loft suites and luxury suites measuring 1,600 sq ft (150 m2) with balconies overlooking the sea or promenades. The ship features a zip-line, a casino,[26] a mini-golf course, four swimming pools, volleyball and basketball courts, theme parks and nurseries for children.[17]

Onboard recreational, athletic, and entertainment activities are organized into seven themed areas called "neighborhoods",[27][28] a concept which bears resemblance to theme park planning.[10] These neighborhoods are:

  1. Central Park features boutiques, restaurants and bars, including access to the Rising Tide bar,[10] which can be raised or lowered to three separate levels.[17][26] It will house the first living park at sea with over 12,000 plants and 56 trees.[17][29]
  2. The Pool and Sports Zone features a sloped-entry beach pool and two surf simulators.[10]
  3. Vitality at Sea Spa and Fitness Center features a spa for teens.[10]
  4. Boardwalk features a handcrafted carousel,[10][12] restaurants, bars, shops, two rock-climbing walls, and a tattoo parlor.[8] Its outdoor 750-seat[17] AquaTheatre amphitheater hosts the ship's largest freshwater pool.[12]
  5. Royal Promenade features restaurants and shops and is viewable from a mezzanine.[8][10]
  6. Youth Zone features a science lab and computer gaming.[29]
  7. Entertainment Place

Naming ceremony and launch party

The ship was formally named on the 30th of November 2009 during a charity sailing for Make a Wish Foundation. At this ceremony the ship was sponsored by seven "godmothers", each representing one of the seven neighbourhoods onboard. The godmothers were Gloria Estefan, Michelle Kwan, Dara Torres, Keshia Knight Pulliam, Shawn Johnson, Jane Seymour and Daisy Fuentes.[30].

On the 1st of December 2009, a four-night launch celebration began before the ship leaves Port Everglades, Fort Lauderdale, Florida on the 5th December 2009.[31]


source:

http://en.wikipedia.org/wiki/MS_Oasis_of_the_Seas


Career
Name: Oasis of the Seas
Owner: Royal Caribbean International
Operator: Royal Caribbean International
Port of registry: The Bahamas Nassau, The Bahamas[1]
Route: Caribbean
Ordered: February 2006
Builder: STX Europe, Turku, Finland[2]
Cost: US$1.4 billion (2006)[3]
Laid down: 12 November 2007[4]
Launched: 22 November 2008 float-out[4]
Completed: 28 October 2009[5]
Christened: 30 November 2009[6]
Maiden voyage: 5 December 2009 (planned)[6]
Status: in active service, as of 2009
General characteristics
Class and type: Oasis class cruise ship
Tonnage: 225,282 GT[1]
Length: 360 m (1,181 ft) overall[7]
Beam: 47 m (154 ft) waterline
60.5 m (198 ft) extreme[7]
Height: 72 m (236 ft) above water line[8]
Draught: 9.3 m (31 ft)[7]
Depth: 22.55 m (74 ft)[7]
Decks: 16 passenger decks[2]
Installed power: 3 × Wärtsilä 12V46D engines (13,860 kW/18,590 hp each)
3 × Wärtsilä 16V46D engines (18,480 kW/24,780 hp each)[8][9]
Propulsion: 3 × 20 MW ABB Azipod, all azimuthing[8]
Speed: 22.6 knots (41.9 km/h; 26.0 mph)[2]
Capacity: 5,400 passengers double occupancy; 6,296 total[2]
Crew: 2,165[2]

Kopenhagen, Surga Pegowes Sepeda

MENGHIRUP udara pagi sambil menyusuri Jalan Raya HC Andersen yang teduh membuat dada terasa lapang. Mendekati Taman Tivoli, di persimpangan yang padat di antara stasiun sentral dan kawasan pedestrian Stroget, lalu lintas makin padat, bukan saja oleh mobil atau bus, tetapi terutama oleh sepeda.

Di lajur khusus sepeda yang berdampingan dengan trotoar lebar tempat pejalan kaki, serombongan pengayuh sepeda melintas dengan kecepatan cukup tinggi. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa, ibu rumah tangga, dan pekerja kantoran yang bahkan mengayuh dengan setelan lengkap.

Kopenhagen memang kota paling bersahabat bagi para pengayuh sepeda. Jalur khusus sepeda yang dibangun pemerintah kota setiap tahun bukan saja makin panjang, tetapi juga makin lebar. Di ibu kota Denmark ini, lebih dari sepertiga penduduk memilih sepeda sebagai moda transportasinya.

Tiap tahun, angka pengayuh sepeda terus meningkat, sejalan dengan kebijakan pemerintah kota yang memberi ruang yang juga makin luas bagi mereka. Saat ini, sekitar 350 kilometer jalur khusus sepeda tersedia di Kopenhagen. Dalam catatan kantor wali kota, penduduk Kopenhagen setiap hari bepergian dengan metro sejauh 660.000 kilometer, sementara dengan sepeda, 1,2 juta kilometer, atau hampir dua kali lipat.

Demi keamanan pengendara sepeda, pemerintah kota sangat serius menerapkan hukum berlalu lintas. Di persimpangan, garis berhenti bagi kendaraan bermotor berjarak lima meter di belakang garis bagi pegowes sepeda. Lampu hijau bagi pegowes juga 12 detik lebih cepat ketimbang mobil. Ini dimaksudkan memberi sudut pandang lebih jelas bagi pengendara mobil.

Keberadaan jalur khusus sepeda dan pengaturan lalu lintas yang berpihak kepada pegowes membuat angka kecelakaan sepeda di Kopenhagen sangat rendah, yakni rata-rata hanya dua sampai tiga kecelakaan yang menyebabkan kematian. Agak mengejutkan hanyalah statistik kecelakaan meninggal pesepeda pada tahun 2008 yang mencapai lima orang.

Yang juga agak mengherankan, hanya sedikit pegowes di Kopenhagen yang memakai helm. Buruknya disiplin pegowes ini sempat menjadi perbebatan sengit para politisi. Namun, meski perdebatan terus berlangsung, sejauh ini tak ada aturan baru yang mengharuskan pesepeda mengenakan helm. Keengganan menerapkan aturan itu konon disebabkan ketakutan akan turunnya minat bersepeda. Para politisi masih beranggapan, manfaat bersepeda bagi lingkungan dan kesehatan masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan risiko bersepeda tanpa helm.

Makin tingginya angka pengguna sepeda membuat tuntutan akan tempat parkir sepeda pun meningkat tiap tahun. Meski hampir di setiap pojok kota sepeda selalu menjadi prioritas parkir, kekurangan tetap sangat terasa. Di kawasan pedestrian Stroget yang terkenal sebagai pusat belanja, sepeda diparkir sembarangan di emperan toko.

Sama dengan mobil

Namun, hebatnya, di tempat-tempat penting dan gedung publik serta hotel berbintang, sepeda punya kasta yang sama dengan mobil mewah. Di tempat-tempat ini sepeda disediakan tempat khusus. Di hotel-hotel tertentu, sepeda bahkan punya kasta lebih tinggi ketimbang roda empat. Tempat parkirnya dekat lobi dan diberi atap, lengkap dengan fasilitas memompa ban!

Bandingkan dengan gedung-gedung tinggi, hotel atau mal, di Indonesia yang bahkan tidak mengizinkan Si Kuda Aluminium yang sangat ramah lingkungan ini masuk halaman, apalagi parkir. Belum lama ini, surat pembaca di harian ini memprotes pengelola Mal Pacific Place yang melarang sepeda masuk dan parkir. Sepeda, meski tidak membuat macet dan tidak mengotori udara, diperlakukan sangat buruk di Indonesia.

Sementara di Kopenhagen, dua tahun ini tuntutan agar jalur sepeda bisa lebih mulus juga ditanggapi sangat serius oleh pemerintah kota. Sambungan-sambungan jembatan yang biasanya berlubang sudah sangat sedikit dijumpai. Bahkan, jika kita bersepeda di sekitar balaikota dan berkeliling ke beberapa tempat populer, seperti Amalienborg (tempat keluarga kerajaan tinggal), Gedung Opera, dan taman Tivoli, jalur sepedanya lebih mulus daripada jalan Tol Jagorawi.

Bagi pelancong mancanegara, Pemerintah Kota Kopenhagen menyediakan sepeda gratis. Dengan memasukkan deposit 20 krone (sekitar Rp 45.000), mereka bisa meminjam sepeda di lebih dari 100 rak yang tersebar di sudut-sudut kota. Setelah bersepeda sekenyangnya, pelancong tinggal mengembalikan di rak terdekat dan mereka mendapatkan kembali 20 krone-nya.

Sepeda gratis yang diberi nama ”City Bike One” ini lebih dari sekadar cukup kualitasnya untuk berkeliling kota. Meski hanya sepeda berkecepatan tunggal (single speed), menggowes sepeda ini sangat nyaman, ringan, dan tidak perlu takut tersesat. Sebab, selain jalur sepeda sangat jelas, ”City Bike One” ini juga dilengkapi peta dan nomor-nomor telepon untuk keadaan darurat. (Anton Sanjoyo)


Source:

http://travel.kompas.com/read/xml/2009/12/05/08275988/kopenhagen.surga.pegowes.sepeda

Oasis of The Seas Laksana Kota Terapung

Kapal pesiar terbesar abad ini, The Oasis of the Seas, yang lima kali lebih besar dibanding Titanic, memulai pelayaran perdana dari Denmark, hari Minggu (1/11), menuju Florida, AS. ”Hotel” mewah terapung ini memiliki 2.700 kamar dan bisa menampung 6.300 penumpang ditambah 2.100 awaknya. Fantastis!

Ratusan warga bersorak kegirangan, memberi aplaus meriah ketika Oasis berhasil melewati kolong jembatan Great Belt Fixed Link dalam perjalanannya menuju Laut Baltik. Warga histeris ketika kapal mendekati jembatan itu.

Mendebarkan karena kapal terlalu tinggi. Posisi kapal hanya berada setengah meter di bawah jembatan, yang sudah tinggi itu. Setelah petugas menurunkan cerobong asap teleskopik, barulah kapal bisa lolos. Setelah kapal berhasil melewati jembatan, ratusan warga yang berkumpul di kedua ujung jembatan melonjak kegirangan dan berteriak histeris, ”Fantastik!”

”Kapal itu sangat besar. Benar-benar fantastik menyaksikan kapal raksasa itu bergerak,” kata Kurt Hal (56), seorang warga.

”Kami bersyukur, kapal bisa melewati jembatan tanpa insiden. Tidak ada yang jatuh,” tambah Ilvonen Toivo, Manajer Proyek STX Finlandia, perusahaan pembuat kapal tersebut.

Ilvonen menuturkan kemegahan The Oasis of the Seas dengan kabin yang memiliki serambi tersendiri. Setiap lantai kapal memiliki jendela yang bisa digeser. Kapal pun memiliki ruangan mewah sepanjang 487 meter dengan balkon menghadap ke laut lepas dan geladak untuk berjalan. Ini adalah fasilitas untuk pertemuan besar dan tentunya dengan suguhan ala surga di dunia itu.

Pihak perusahaan menjamin kapal itu akan sukses dan menjadi tenar ke seluruh dunia. Kapal milik Royal Caribbean Internasional ini dibangun oleh STX Finlandia dengan biaya 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 150 triliun. Ini sama dengan biaya untuk membeli 750.000 unit rumah jika satu rumah seharga Rp 200 juta.

Naik kapal ini akan membuat penumpang tidak merasa sedang berada di lautan, tetapi di rumah dengan fasilitas relaksasi. Kapal ini memiliki tujuh ruang publik, layaknya sebuah taman di kompleks perumahan.

Ada juga sebuah gelanggang es, lapangan golf kecil, dan satu teater luar ruang dengan lebih dari 750 kursi. Teater ini terdapat di buritan kapal dibangun dengan gaya amfiteater Yunani kuno. Pada siang hari, teater ini berubah fungsi jadi kolam renang, sedangkan pada malam hari bisa disulap menjadi teater terbuka menghadap ke lautan lepas. Ada juga sebuah bioskop dalam ruangan yang mampu menampung 1.300 orang.

Kota terapung

Biasanya badan kapal dibangun sebagai satu kesatuan yang utuh. Namun, Oasis dirancang dengan memisahkan badan kapal menjadi dua bagian. Di tengahnya ada taman hijau seluas lapangan bola.

Kapal berlantai 16 ini juga memiliki kolam renang terbesar di dunia. Saking besarnya, kapal ini pun dijuluki The Floating City atau Kota Terapung.

Kapal ini memiliki satu lapangan bernama Central Park, yang diisi dengan ratusan butik, restoran, dan bar, termasuk bar yang bisa bergerak naik-turun tiga dek. Ini memungkinkan pengunjung berada pada tingkat yang berbeda dengan sensasi yang berbeda pula.

Selain enam kolam renang, kapal memiliki lapangan voli, basket, dan zona kaum muda dengan tema taman dan kebun bibit untuk anak-anak. Kapal raksasa ini memiliki ruangan-ruangan yang amat beragam fungsinya.

Di kapal disediakan sebuah taman dengan tema ”lingkungan”. Taman ini diisi dengan tanaman bernuansa lingkungan tropis, dengan pohon palem.

Kapal yang dibuat oleh 2.800 pekerja itu memiliki panjang 360 meter serta berat 225.282 ton. Kapal milik Royal Caribbean International ini digerakkan tiga baling-baling, masing- masing setinggi 200 kaki. Kapal berjalan dengan sistem tarik, bukan dorong seperti kapal pesiar biasa. Sistem ini dilaporkan dapat menghasilkan sekitar 30.000 tenaga kuda, yang bagi Oasis diyakini lebih efisien karena mengurangi hambatan dalam air. (AP/CAL)





Source:
http://travel.kompas.com/read/xml/2009/11/02/06211677/oasis.laksana.kota.terapung

Oasis of the Seas, Resor Modern Terapung di Laut

Oooh, my God,” ujar perempuan tua kulit putih asal New York, Amerika Serikat, dengan suara membahana saat masuk ke kapal pesiar raksasa, Oasis of the Seas, di Fort Lauderdale, Miami, Florida, AS.

Suara membahana perempuan tua itu mewakili perasaan sebagian orang yang masuk ke kapal pesiar raksasa yang punya 2.700 kamar di 17 lantai. Semua orang yang memasuki kapal raksasa itu terbengong-bengong menyaksikan bagian dalam kapal ini. Seperti masuk sebuah kota supermodern.

Hari itu, Selasa pagi, 24 November 2009. Sekitar 11.000 orang masuk ke kapal di lantai lima. Bagian ini berfungsi sebagai lobi kapal. Bagian ini disebut Royal Promenade. Di situ ada puluhan toko dan restoran, serta sebuah bar yang bisa bergerak naik turun dari satu lantai ke lantai lain. Namanya Rising Tide Bar.

Tamu yang masuk ke kapal, yang dibuat di Finlandia selama tiga tahun, itu adalah para undangan yang terdiri dari 500 wartawan dari sejumlah media massa 48 negara di dunia, anggota keluarga karyawan dan pimpinan perusahaan Royal Caribbean International (pemilik kapal pesiar ini), serta sekitar 10.000 orang dari agen biro perjalanan.

Kapal terbesar dan tertinggi di dunia ini hari itu berlayar selama tiga malam dua hari di Laut Karibia, di antara negara-negara pulau, yakni Kuba, Puerto Riko, Bahama, dan seterusnya.

Perjalanan kapal yang memiliki puluhan gedung teater ini dimulai sekitar pukul 21.00 waktu setempat ketika ribuan orang di tempat berkumpul, di sebuah gedung di salah satu ujung lantai empat, menyaksikan penampilan kelompok band ABBA imitasi. Kapal berlayar tanpa terasa. Bukan karena sebagian besar penumpang asyik menyaksikan wanita cantik yang melantunkan lagu ”Fernando”, tetapi karena besarnya ukuran kapal itu.

Bahkan, hujan deras dan ombak besar yang terjadi di Laut Karibia, malam itu, tidak sedikit pun menggoyang kapal berbobot 225.280 ton yang dibangun dengan biaya sekitar 1,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 12 triliun.

Ruang kelab malam

Di depan gedung teater di lantai empat itu ada ruang kasino besar yang menyediakan 450 mesin judi (slot machine) dan 27 meja judi (gaming table). Di lantai ini juga terdapat sebuah ruang kelab malam yang setiap malam menggelar musik jazz dan blues serta komedi.

Di sini (dek 4) hadir pula rumah makan besar, Opus 4, yang menyajikan makanan-makanan yang cocok untuk lidah orang Asia, termasuk Indonesia. Di rumah makan ini ada empat dari 200 karyawan asal Indonesia yang bekerja di Oasis of the Seas. Empat orang itu adalah Seno Manggola Sampurno (asal Salatiga, Jawa Tengah), Jumai (Bali), Suriawan (Lubang Buaya, Jakarta), dan Dani Kusnandi (Cibubur, Bogor).

Menurut Dani Kusnandi, salah seorang pimpinan rumah makan Opus 4, Oasis of the Seas membawa 2.158 awak kapal (asal 71 negara di dunia) yang dipimpin Kapten Senior William Wright. Awak kapal terbanyak berasal dari Filipina dan India. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pegawai mekanik. ”Ini bisa dimaklumi karena sebagian besar dari dua negara itu fasih berbahasa Inggris dan Spanyol,” ujar Dani.

Menurut para karyawan Royal Caribbean asal Indonesia, 21 kapal pesiar raksasa milik perusahaan ini tidak ada yang berlayar ke perairan Indonesia karena masalah keamanan. Namun, ketika Kompas bertanya kepada William Wright soal kemungkinan berlayar ke Indonesia, pria gagah berperawakan tinggi yang juga menjabat senior vice president di Royal Caribbean ini mengatakan, ”Suatu saat nanti, karena saat ini kami juga menjelajahi wilayah Timur Tengah.”

Sejuta kata yang bisa dituangkan dalam tulisan ini untuk menggambarkan kehebatan dan keunikan kapal ini. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Untuk menikmati seluruh bagian kapal ini dalam waktu tiga malam empat hari juga tidak mungkin.

Seperti di mal

Bila kita sebagai penumpang mencoba mendatangi tempat ini di bagian dalam kapal selama satu bulan, tanpa satu hari pun muncul di dek 17 atau 16, kita akan merasa tidak di dalam kapal. Atau jika kapal itu terus berlayar di laut, kita tidak akan merasa sedang berada di atas lautan. Kemungkinan besar kita hanya merasa sedang menikmati atau menyaksikan suasana kehidupan hotel dan mal selama 24 jam per hari. Atau jika hobi berjudi, kita seperti hidup di salah satu tempat di Las Vegas.

Kapal ini dibangun untuk orang berusia dari enam bulan sampai 90 tahun. Para wartawan Taiwan yang ikut dalam pelayaran ini mengatakan, ”Kapal ini hanya untuk orang kaya atau orang yang dibiayai orang kaya.”

Selama berlayar, penumpang bisa makan sesuka hati setiap saat. Bila salah pesan, kita bisa mengembalikan makanan tersebut tanpa dicemberuti karyawan penyaji makanan itu. Penumpang hanya membayar minuman yang mengandung alkohol.

”Reuni orang-orang yang suka berwisata paling baik adalah kapal ini,” kata Budi Darmawan Gani, Direktur PT Multi Alam Bahari Internasional (perwakilan dari Royal Caribbean International di Indonesia).

Salah satu tempat menarik yang perlu dicatat dari kapal ini adalah Aqua Theater. Ini merupakan wilayah pergelaran dengan media air yang berada di bagian belakang kapal. Di situ ada kolam renang yang bisa ditutup secara otomatis. Di kolam renang ini para atlet bisa mempergelarkan seni drama tari dan gerak atletik menawan.

Malam terakhir, dari pelayan, di tempat itu dipertunjukkan sendratari air mengenai penciptaan air. Di tengah adegan itu seorang atlet renang melakukan loncat indah dari menara setinggi 20 meter. Sendratari air ini ditutup dengan pertunjukan tarian air mancur dari kolam air itu. Air mancur bisa melenggak-lenggok setinggi 30 meter yang bisa membuat basah penonton.

Untuk sampai ke teater air (kawasan ini juga diberi nama The Boardwalk) ini, penumpang harus masuk lewat dek atau lantai delapan. Di dekat kolam teater air itu juga ada bagian untuk panjat tebing. Sebelum sampai ke kawasan panjat tebing ini bisa ditemukan wilayah untuk anak-anak bermain, seperti kuda putar (carousel atau dermolen) yang dibuat dari kayu buatan tangan.

Di bagian tengah dek ini ada taman dengan ribuan tanaman, termasuk pohon-pohon besar seperti bambu dan trembesi. Juga ada puluhan tanaman lidah mertua.

Bila berada di kamar di lantai (dek) sebelas dan memandang taman ini, kita serasa berada di sebuah hotel di tengah hutan. Sulit untuk membayangkan kita berada di tengah laut atau di kapal.

Bila ingin menikmati angin laut dan memandang laut luas, kita harus naik ke dek 16 atau 17. Di sana ada bar dan kelab malam besar untuk dansa-dansi.

Keluar dari bar dan kelab malam besar itu akan dijumpai sejumlah kolam renang dengan berbagai variasinya, seperti kolam ombak, jacuzzi, kolam pantai, dan seterusnya. Kesetiaan kita untuk menikmati pemandangan laut luas dan angin laut bisa sirna apabila saat itu matahari bersinar terang mengingat ada puluhan perempuan dari usia tua sampai remaja berjemur dengan pakaian minim.

Untuk dapat menikmati berlayar dengan kapal raksasa Oasis of the Seas selama 70 hari, seseorang harus mau mengeluarkan uang paling tidak 5.000 dollar AS. (J Osdar)



source:

http://travel.kompas.com/read/xml/2009/12/05/08195431/oasis.of.the.seas.resor.modern.terapung.di.laut.

Cara Mendownload Lagu, software, dll

1. Kalo saya memerlukan bantuan software Orbit Downloader , setelah kita mendownload dan install software tersebut, maka kita dapat mendownload secara cepat dan mudah..

2. kita memerlukan bantuan google dalam mencari link lagu, software, dll.

3. biasanya saya menggunakan website mediafire .

4. kita ketikan pada kolom search google dengan kata kunci seperti contoh seperti ini
site:mediafire.com michael jackson - black or white
site:filehippo.com adobe reader (untuk pencarian software gratis)

5. setelah kita mendapatkan link yg kita cari, kita klik link itu

6. dan pada site yg dimaksud kita cari tombol download, kita KLIK KANAN pada tombol itu dan COPY LINK LOCATION, setelah itu kita buka Orbit Downloader.
kita klik tombol add dan paste link yang tadi baru kita copy dan download..

7. proses download dalam proses dan kita tinggal tunggu saja setelah proses selesai.
dan dapat mencari hasil download tersebut di drive C dalam folder download.


mudah bukan??

Absolute Revo 110

Fitur Utama

Clear Head Light

Clear Head Light
Desain stylish dilengkapi multi-reflektor dan clear lens memberikan kesan lebih mencolok dengan sinar lebih terang

New Image 3D Leg Shield
Desain 3D menyatu dengan cover bodi memberi kesan gagah dan kuat
New Sporty Muffler
Bentuk oval bergaya motor besar dengan tampilan lebih gagah
Revolutionary Speedometer
Desain modern dengan kaca cembung, lebih jelas, lengkap dan mudah dipantau
Sporty Pillion Step
Menempati pada frame lebih kokoh, minim getaran, nyaman dan bergaya.
Easy Switch Steering
Tampil baru dengan bentuk modern dan posisi ergonomis yang memudahkan penggunaan.
Sprocket Chain Stopper
Mengurangi resiko bahaya roda belakang terkunci apabila rantai lepas dari sprocket.
Secure Key Shutter
Sistem penutup lubang kunci otomatis yang lebih aman. Dilengkapi lapisan fosfor/indiglow agar terlihat pada malam hari.
Separated Tail Light
Desain kompak dengan cover terpisah dari bodi. Dilengkapi multi-reflektor.
Engine Heat Protector
Melindungi kaki dari panas mesin sekaligus melindungi mesin tergores sepatu pengendara.
Stylish Casting Wheel
Dilengkapi velg racing dengan desain yang sporty, ringan dan kokoh.
Inner Cover Rear Cushion
Menggunakan inner cover sehingga lebih terlindung dari debu dan kotoran


SPESIFIKASI

Panjang X lebar X tinggi : 1.925 mm x 709 mm x 1.084 mm
Jarak sumbu roda : 1.221 mm
Jarak terendah ke tanah : 147 mm
Berat kosong : 98 kg (CW) ; 97 kg (Spoke)
Tipe rangka : Tulang punggung
Tipe suspensi depan : Teleskopik
Tipe suspensi belakang : Lengan ayun dengan peredam keju ganda
Ukuran ban depan : 70/90 - 17 M/C 38P
Ukuran ban belakang : 80/90 - 17 M/C 44P
Rem depan : Cakram hidrolik, dengan piston tunggal
Rem belakang : Tromol
Kapasitas tangki bahan bakar : 3,7 lt
Tipe mesin : 4 langkah, SOHC, pendinginan udara
Diameter x langkah : 50 x 55,6 mm
Volume langkah : 109,1 cc
Perbandingan kompresi : 9,0 :1
Daya maksimum : 8,46 PS/7.500 rpm
Torsi maksimum : 0,86 kgf.m/5.500 rpm
Kapasitas minyak pelumas mesin : 0,8 lt pada pergantian periodik
Kopling Otomatis : Sentrifugal, tipe basah, dan ganda
Gigi transmsi : 4 kecepatan bertautan tetap
Pola pengoperan gigi : Sentrifugal, tipe basah, dan ganda
Starter : Pedal dan Elektrik
Aki : MF 12 V - 3 Ah
Busi : ND U20EPR9S, NGK CPR6EA-9S
Sistem pengapian : DC-CDI, Battery